Inspirasi, Sharing & Motivasi, Sosial

Ta’aruf, Sosial Media, dan Kejujuran

Ta’aruf
.
Hemmmm…. istilah itu akhir-akhir ini sering berseliweran dimana-mana. Menjadi topik curhatan hati para single lillah, alias single fisabilillah (orang yang sedang berjuang di jalan Allah dalam kesendiriannya) yang belum Allah izinkan bertemu dengan jodoh terbaiknya.
.
.
20181013_231205_0001
Foto : canva.com
.
Saya pun yang tadinya sangat awam dengan istilah tersebut (maklummm, ilmu agama masih sangat cethek alias gak ada apa-apanya), mulai memaksa diri untuk belajar dan paham apa makna istilah itu.
.
Bukannya tidak pernah mendengar sama sekali sebenarnya. Dulu zaman masih gadis tahu sih apa itu ta’aruf. Tapi ya sebatas tahu aja. Sama sekali gak paham bagaimana proses ta’aruf yang sebenarnya, yang sesuai dengan syariat, yang sesuai dengan manhaj salaf alias kaidah-kaidah terdahulu yang dilakukan Rasulullah Saw dan para pengikut beliau.
.
Sekarang baru paham, bahwa ta’aruf secara syari itu benar-benar harus melibatkan orang ketiga. Tidak boleh berkhalwat (bercanda/bergurau) hanya berdua saja. Walaupun di zaman now istilah ta’aruf ini juga mulai banyak diplesetkan oleh mereka, adik-adik kita yang masih muda dan bergejolak. Menggunakan istilah tersebut, tapi dengan gaya mereka sendiri, yang bikin kita sering geleng-geleng kepala.
.
Nah, kembali lagi ke masalah istilah di paragraf pertama.
.
Jadi Masya Allah, sebenarnya agama Islam telah sangat ketat sekali memberikan batasan-batasan tata cara pergaulan yang baik antara ikhwan dan akhwat (pria dan wanita). Semua lengkap ada aturannya. Kamu yang masih single dan belum punya pasangan saja dilarang untuk berdua-duaan dengan lawan jenis yang bukan mahrommu. Apalagi kamu yang telah berkeluarga dan memiliki pasangan, tentunya larangannya lebih ketat lagi.
.
Parahnya, saat ini dunia maya memungkinkan semua orang dari berbagai belahan dunia, dengan berbagai karakter dan budaya, terhubung menjadi satu. Sosial media bak dua sisi mata uang bagi kita. Banyak positifnya, dan banyak pula negatifnya.
.
Berbisnis dan menghasilkan uang, menjalin pertemanan, bertemu dengan teman-teman lama, ajang belajar dan menambah ilmu secara online, adalah sederet hasil positif dari adanya sosial media.
.
Negatifnya? Banyak juga hehhee..
.
Ajang selfie, promosi diri secara fisik (maaf ya ☺), ajang debat dan adu opini, bahkan bisa saja menjadi sarana berseminya cinta yang baru, maupun kembalinya cinta lama, adalah keuntungan sosial media dari kaca mata negatif.
.
Lalu, bagaimana sebaiknya? Tidak perlu bersosmed ria kah apabila telah memiliki pasangan? Hemmm… terlalu naif juga ya sepertinya.
.
Saya yakin, setiap keluarga dan pasangan pasti memiliki kebijakan masing-masing. Ada baiknya saling berdiskusi bagaimana sebaiknya.
.
Apalagi jika kamu adalah seorang pria. Godaan di sosmed semakin banyak. Wanita cantik dengan kulit wajah yang halus mulus selalu hadir setiap waktu dan tiap detik di timeline kamu. Yakinnn, kamu kuat melihatnya? ☺ Nahhh.. itulah kenapa ada pesan begini “jagalah selalu hati dan pandanganmu”,  karena godaan syaithan memang selalu berawal dari ” pandangan”.
.
Seorang ibu teman anak saya pernah curhat, dia sengaja tidak punya akun Facebook untuk menghindari berbagai godaan. Dan saya pun mengakui hal tersebut.
.
Sebagai pengguna Facebook sejak tahun 2009 untuk kepentingan berbisnis, bukan 1-2 kali godaan muncul lewat inboks dan telepon. Sering malah. Awalnya pasti takut dan kesal. Tapi seiring berjalannya waktu, telah terbentuk pola dan cara menghadapinya. Jika sudah keterlaluan biasanya saya blokir saja. Jika tidak ingin ambil resiko dapat inboks dari pria tak dikenal, bertemanlah hanya dengan para wanita. Itu pun harus hati-hati juga, karena banyak akun yang foto serta namanya wanita, tapi kenyataannya adalah seorang pria.
.
Satu hal penting, menurut saya, untuk meminimalisir godaan dalam kualitas hubungan dengan pasangan di zaman now adalah mutlak adanya KEJUJURAN.
Yesss, jujur pada pasangan bahwa dirimu telah digoda pria lain misalnya. Atau engkau para pria, pernah mengalami dikejar-kejar wanita lain.
.
Mungkinnn… awal kejujuran memang sangat tidak nyaman. Bisa jadi ribut sejenak karena adanya rasa cemburu. Tapi kejujuran sangat efektif untuk mengalihkan dan menyadarkan dirimu, bahwa kamu masih memiliki pasangan sah di rumah. Bahwa kamu masih punya anak-anak yang mengidolakan karakter dan perilakumu sebagai orang tua. Jika orang tua sering tidak jujur, jangan heran bila si kecil pun piawai ngeles dan merangkai kata-kata.
.
Dahsyatnya nilai kejujuran, menurut saya, dapat melawan jahatnya godaan syaithan dari lingkungan di sekeliling kita. Karena yakin aja, syaithan juga memiliki tingkatan ilmu yang disesuaikan dengan kekuatan iman manusia. Semakin tinggi iman kita, syaithan penggodanya juga sudah berada di level 10, memiliki cara yang sangat halus untuk menjerumuskan manusia.
.
Hemmm…. tulisan campur aduk ini sebagai pengingat juga buat saya, seorang ibu dengan anak perempuan yang beberapa tahun lagi mulai memasuki masa puber. Harus mulai menyiapkan diri kita sebagai orang tua, disamping persiapkan pula anak kita, karena godaan syaithan saat ini ada dimana-mana, bukan hanya di dalam hati dan pikiran, bahkan ada di dalam gadgetmu… ❤
.
.
💜💛💚
.
#OneDayOnePost
#EstrilookCommunity
Iklan

3 tanggapan untuk “Ta’aruf, Sosial Media, dan Kejujuran”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s